Pernah dengar istilah The Agent of
Change? Agent of change atau agen perubahan adalah julukan untuk
Mahasiswa sebagai kaum terpelajar. Seorang Mahasiswa adalah manusia
dewasa yang tiap tindak-tanduknya dapat dipertimbangkan. Mereka dapat
berkontribusi dalam pengubahan masyarakat yang lebih baik. Namun masih
layakkah julukan itu dimiliki Mahasiswa dimasa sekarang?
 |
| sumber: unib.ac.id |
Mahasiswa bukanlah pemuda-pemudi biasa. Mahasiswa adalah sebutan untuk
seseorang yang menjalankan pendidikan di perguruan tinggi. Maka dari
itu, kita yang berstatus Mahasiswa adalah orang yang dianggap punya ilmu
lebih. Mahasiswa bukanlah siswa sekolahan yang menunggu tugas dari
guru, bukan pula yang pulang ketika bel berbunyi, juga bukan anak yang
dicari-cari guru karena tidak ikut ulangan. Mahasiswa adalah mereka yang
diharapkan dapat menyalurkan ilmu yang dia punya untuk menambah relasi,
ikut berkontribusi dalam membangun lingkungan serta melek akan
kebutuhan masyarakat.
Mahasiswa harus peka dengan lingkungan sekitarnya. Ada banyak hal yang
baru kita ketahui setelah kita duduk di bangku kuliah. Kita pun juga
bertemu banyak orang yang punya tujuan yang sama dengan kita. Tujuan
yang sama akhirnya mempertemukan kita dalam satu jurusan, dalam satu
organisasi. Kegiatan perkuliahan serta kegiatan organisasi mampu membawa
kita berpikir jauh akan segala hal disekitar kita. Betapa banyaknya
carut-marut masalah negeri ini yang baru kita ketahui saat menjadi
Mahasiswa. Mulai dari masalah pendidikan, kesehatan, ekonomi, teknologi
dan masih bayak lagi yang baru kita ketahui.
Dari sekian banyak masalah yang telah kita temukan, apakah kita punya
rencana untuk mengambil langkah perubahan? Sudahkah kita menggali lebih
dalam akan masalah-masalah yang menyelimuti bangsa ini? Pernahkah kita
mencari tahu penyebabnya serta cara mengatasinya? Atau mungkin
sebenarnya kita tahu, tapi kita diam, kita masih bungkam. Kita tahu kita
harus pandai berteori, kita pandai merangkai kata kala presentasi, kita
mampu berdebat dengan lihainya, namun... ya hanya isapan jempol belaka.
Kata-kata yang elok yang berhasil kita simpulkan saat diskusi hanya
bermakna sebatas diskusi. Tak nampak pembuktian, tak terpikir
ancang-ancang. Ketika kita tahu pendidikan negara kita masih belum
maksimal, apa yang bisa kita lakukan? Ketika kita tahu masyarakat masih
pada gaptek, kenapa tak ambil tindakan? Kenapa ketika tahu korupsi
merajalela, kita malah asyik menggerutu? Banyak jalan rusak, apa rencana
kita? Padahal kita punya ilmu, tapi tak termanfaatkan.
Mahasiswa bukan hanya penggagas ide, namun juga sebagai subjek utama.
Kitalah pelaku perubahan. "THE AGENT OF CHANGE". Masih pantaskah kita
mendapat julukan yang penuh harapan itu? Hmm, kita sendirilah yang
menentukan. Jangan sampai hanya tahu kuliah dan pulang
Belum ada tanggapan untuk "Masih Layakkah Dijuluki "The Agent of Change"? "
Posting Komentar